Rabu, 30 Desember 2015

Biografi Tokoh Sastra

Biografi Chairil Anwar


Chairil Anwar (lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 – meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun), dijuluki sebagai "Si Binatang Jalang" (dari karyanya yang berjudul Aku), adalah penyair terkemuka Indonesia. Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia.
Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, dimana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.
Chairil Anwar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922. Ia merupakan anak satu-satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha, keduanya berasal dari kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Jabatan terakhir ayahnya adalah sebagai bupati Inderagiri, Riau. Ia masih punya pertalian keluarga dengan Soetan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. Sebagai anak tunggal, orang tuanya selalu memanjakannya. Namun, Chairil cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apa pun; sedikit cerminan dari kepribadian orang tuanya.
Chairil Anwar mulai mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Ia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Saat usianya mencapai 18 tahun, ia tidak lagi bersekolah. Chairil mengatakan bahwa sejak usia 15 tahun, ia telah bertekad menjadi seorang seniman.
Pada usia 19 tahun, setelah perceraian orang tuanya, Chairil bersama ibunya pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dimana ia berkenalan dengan dunia sastra; walau telah bercerai, ayahnya tetap menafkahinya dan ibunya. Meskipun tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, ia dapat menguasai berbagai bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman. Ia juga mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Penulis-penulis tersebut sangat memengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung terhadap tatanan kesusasteraan Indonesia.
Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di Majalah Nisan pada tahun 1942, saat itu ia baru berusia 20 tahun. Hampir semua puisi-puisi yang ia tulis merujuk pada kematian. Namun saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta, Chairil jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945. Kemudian ia memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, namun bercerai pada akhir tahun 1948.
Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya. Sebelum menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Chairil meninggal dalam usia muda di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo), Jakarta pada tanggal 28 April 1949; penyebab kematiannya tidak diketahui pasti, menurut dugaan lebih karena penyakit TBC. Ia dimakamkan sehari kemudian di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Chairil dirawat di CBZ (RSCM) dari 22-28 April 1949. Menurut catatan rumah sakit, ia dirawat karena tifus. Meskipun demikian, ia sebenarnya sudah lama menderita penyakit paru-paru dan infeksi yang menyebabkan dirinya makin lemah, sehingga timbullah penyakit usus yang membawa kematian dirinya - yakni ususnya pecah. Tapi, menjelang akhir hayatnya ia menggigau karena tinggi panas badannya, dan di saat dia insaf akan dirinya dia mengucap, "Tuhanku, Tuhanku..." Dia meninggal pada pukul setengah tiga sore 28 April 1949, dan dikuburkan keesokan harinya, diangkut dari kamar mayat RSCM ke Karet oleh banyak pemuda dan orang-orang Republikan termuka. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari masa ke masa. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar. Kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw menyebutkan bahwa "Chairil telah menyadari akan mati muda, seperti tema menyerah yang terdapat dalam puisi berjudul Jang Terampas Dan Jang Putus".
Selama hidupnya, Chairil telah menulis sekitar 94 karya, termasuk 70 puisi; kebanyakan tidak dipublikasikan hingga kematiannya. Puisi terakhir Chairil berjudul Cemara Menderai Sampai Jauh, ditulis pada tahun 1949, sedangkan karyanya yang paling terkenal berjudul Aku dan Krawang Bekasi. Semua tulisannya baik yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak, dikompilasi dalam tiga buku yang diterbitkan oleh Pustaka Rakyat. Kompilasi pertama berjudul Deru Campur Debu (1949), kemudian disusul oleh Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949), dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

Hasil Karya:
1.      Deru Campur Debu (1949)
3.      Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
4.      "Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949", disunting oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
5.      Derai-derai Cemara (1998)
6.      Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
7.      Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck

Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman, bahasa Rusia dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:
  • "Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960)
  • "Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
  • Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
  • "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
  • The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
  • The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
  • Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
  • The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)
  • Dalam Kumpulan "Poeti Indonezii" (Penyair-Penyair Indonesia). Terjemahan oleh S. Semovolos. Moscow: Inostrannaya Literatura, 1959, № 4, hlm. 3-5; 1960, № 2, hlm. 39-42.
  • Dalam Kumpulan "Golosa Tryoh Tisyach Ostrovov" (Suara Tiga Ribu Pulau). Terjemahan oleh Sergei Severtsev. Moscow, 1963, hlm. 19-38.
  • Dalam kumpulan "Pokoryat Vishinu" (Bertakhta di Atasnya). Puisi penyair Malaysia dan Indonesia dalam terjemahan Victor Pogadaev. Moscow: Klyuch-C, 2009, hlm. 87-89.
Karya-karya tentang Chairil Anwar
  • Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan (Djakarta, 1953)
  • Boen S. Oemarjati, "Chairil Anwar: The Poet and his Language" (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972).
  • Abdul Kadir Bakar, "Sekelumit pembicaraan tentang penyair Chairil Anwar" (Ujung Pandang: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974)
  • S.U.S. Nababan, "A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar" (New York, 1976)
  • Arief Budiman, "Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan" (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976)
  • Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar, Auckland, 1976
  • H.B. Jassin, "Chairil Anwar, pelopor Angkatan '45, disertai kumpulan hasil tulisannya", (Jakarta: Gunung Agung, 1983)
  • Husain Junus, "Gaya bahasa Chairil Anwar" (Manado: Universitas Sam Ratulangi, 1984)
  • Rachmat Djoko Pradopo, "Bahasa puisi penyair utama sastra Indonesia modern" (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985)
  • Sjumandjaya, "Aku: berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar (Jakarta: Grafitipers, 1987)
  • Pamusuk Eneste, "Mengenal Chairil Anwar" (Jakarta: Obor, 1995)
  • Zaenal Hakim, "Edisi kritis puisi Chairil Anwar" (Jakarta: Dian Rakyat, 1996)
  • Drama Pengadilan Sastra Chairil Anwar karya Eko Tunas, sutradara Joshua Igho, di Gedung Kesenian Kota Tegal (2006).

Puisi "Aku"

Chairil Anwar pertama kali membaca "AKU" di Pusat Kebudayaan Jakarta pada bulan Juli 1943. Hal ini kemudian dicetak dalam Pemandangan dengan judul "Semangat", sesuai dengan dokumenter sastra Indonesia, HB Jassin, ini bertujuan untuk menghindari sensor dan untuk lebih mempromosikan gerakan kebebasan. "AKU" telah pergi untuk menjadi puisi Anwar yang paling terkenal.

"Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Akhir Hayat"


https://id.wikipedia.org/wiki/Chairil_Anwar
http://www.biografipedia.com/2015/06/biografi-chairil-anwar-penyair-indonesia.html


Minggu, 08 November 2015

Meresensi Buku



A.   Pengertian Resensi
Secara etimologi, resensi berasal dari bahasa latin, dari kata kerja revidere atau recensere yang memilik arti melihat kembali, menimbang atau menilai. Dalam bahasa Belanda dikenal dengan recensie sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah review.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonsia, resensi diartikan sebagai pertimbangan atau pembicaraan tentang buku dan sebagainya. Secara garis besar resensi diartikan sebagai kegiatan untuk mengulas atau menilai sebuah hasil karya baik itu berupa buku, novel, maupun film dengan cara memaparkan data-data, sinopsis, dan kritikan terhadap karya tersebut.
B.   Tujuan Resensi
Adapun penulisan resensi ditujukan dengan maksud sebagai berikut.
1.    Membantu pembaca mengetahui gambaran dan penilaian umum dari sebuah buku atau hasil karya lainnya secara ringkas.
2.    Mengetahui kelebihan dan kelemahan buku yang diresensi.
3.    Mengetahui latar belakang dan alasan buku tersebut diterbitkan.
4.    Menguji kualitas buku dengan membandingkan terhadap karya dari penulis yang sama atau penulis lainnya.
5.    Memberi masukan kepada penulis buku berupa kritik dan saran terhadap cara penulisan, isi, dan substansi buku
C.   Jenis-jenis Resensi
Secara garis besar resensi dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1.    Resensi Informatif, yaitu resensi yang hanya menyampaikan isi dari resensi secara singkat dan umum dari keseluruhan isi buku.
2.    Resensi Deskriptif, yaitu resensi yang membahas secara detail pada tiap bagian atau babnya.
3.    Resensi Kritis, yaitu resensi yang berbentuk ulasan detail dengan metodologi ilmu pengetahuan tertentu. Isi dari resensi biasanya kritis dan objektif dalam menilai isi buku.
Namun, ketiga jenis resensi di atas tidak baku karena bisa saja dalam sebuah resensi ketiganya diterapkan secara bersamaan.
D.   Unsur-unsur Resensi
Dalam membuat resensi, terdapat unsure-unsur yang harus dipenuhi agar resensi yang dibuat menjadi jelas dan berkualitas. Berikut ini adalah beberapa unsur yang harus ada dalam pembuatan resensi.
1. Judul resensi
Judul resensi harus memiliki keselarasan dengan isi resensi yang dibuat. Judul yang menarik juga akan memberi nilai lebih pada sebuah resensi.
2. Menyusun data buku
Penyusunan data buku dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Judul buku;
b. Pengarang;
c. Penerbit;
d. Tahun terbit beserta cetakannya;
e. Dimensi buku;
f. Harga buku;
3. Isi resensi buku
Isi resensi buku memuat tentang sinopsis, ulasan singkat buku dengan kutipan secukupnya, keunggulan dan kelemahan buku, rumusan kerangka buku dan penggunan bahasa.
4. Penutup resensi buku
Pada bagian penutup biasanya berisi alasan kenapa buku tersebut ditulis dan kepada siapa buku tersebut ditujukan
E.   Contoh Meresensi Buku
Judul Novel                          : Separuh Bintang
Penulis                                  : Evline Kartika
Penerbit                                 : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun                                     : April 2009
Tebal Halaman                       : 320 halaman
Sinopsis                                  :

Cinta itu sesuatu yang tidak terduga...
Datang pada tempat yang tidak terduga,
Pada saat tidak terduga,
Bahkan pada orang yang juga tidak terduga.
Cinta itu nggak butuh alasan...
Jika sebuah cinta membutuhkan alasan,
Ketika alasan itu hilang,
Cinta juga akan hilang bersamanya.

Pada dua bait ini pada kiranya yang menjadi sumber kekuatan cinta dan menjadi pedoman bagi para insan manusia yang sedang berlayar di perahu asmara.
Tetapi dunia seakan terbalik bagi Vannesa Chiara atau di panggil Ciya. Dalam sekejap hidupnya yang penuh kebahagiaan berubah. Dua tahun yang lalu... Chiara mengetahui statusnya sebagai anak haram yang menyebabkan ayahnya marah dan pergi dari rumah. Satu tahun yang lalu... Kakak yang disayanginya meninggal karean overdosis. Tiga bulan yang lalu... Kesehatan mama Chiara semakin memburuk dan akhirnya meninggal dunia.
Ditengah kesedihannya dan keterpurukannya itu, Adly, sahabat sejatinya sejak kanak-kanak sekaligus cinta pertama Ciya walaupun bertepuk sebelah tangan, selalu setia menemaninya. Saat suka dan duka Adly selalu ada untuk Chiara, bagaikan malaikat yang dikirimkan oleh tuhan.
Sebulan yang lalu, setelah ibunya meninggal Chiara diangkat anak oleh Bapak bernama Henry yang berumur 48 tahun dan berkerja sebagai direktur sebuah industri tekstil dengan perusahaan bertaraf Internasional. Pria ini mengaku bahwa dirinya adalah teman lama mamanya. Bapak angkat Ciya sangat menyayangi Ciya tetapi tidak dengan mama angkatnya yang bernama Fatma dan anak kandungnya bernama Enrico Leman atau dipanggil Rico, mereka tidak suka dengan kehadiran Ciya. Mereka sering mengganggap Ciya hanya bayangan yang tidak kelihatan.
 Ciya sekarang sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Nenek dan kakeknya sudah meninggal dunia. Papanya anak tunggal, Jadi tidak punya saudara. Satu-satunya saudara mamanya yang sudah meninggal sejak Ciya belum Lahir. Sulit baginya untuk menerima kenyataan bahwa dia hidup sebatang kara.
Kehidupan baru Ciya belum membuat Ciya belum mampu mengembalikan keceriaan Ciya dikala itu. Ciya masih  Terbayang sosok kakaknya yang bernama Billy. Cinta mereka begitu kuat, begitu mengikat walaupun mereka telah terjerumus ke dalam jurang dosa yang sangat curam. Terjebak dalam dunia cinta terlarang. Cinta yang melanggar norma dan aturan. Cinta yang mengatas namakan kakak dan adik kandung. Hingga Billy harus mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis ‘overdosis’.
Kini ada sosok baru yang mengisi kekosongan hati Ciya yaitu kakak angkatnya atau Rico mampu mengisi kekosongan dalam hati Chiara. Mampu menghidupkan lagi bunga yang telah layu. Walaupun awalnya Chiara sangat membenci seorang playboy yang hanya punya kelebihan fisik saja dan bahkan cewek yang berdada rata seperti Chiara bukanlh tipe Rico. Namun seiring berjalannya waktu, apapun bisa terjadi, bahkan semua bisa berubah 180 derajat. Bahkan Chiara pula yang kini menggantikan posisi Sha-Sha –gadis cilik yang dulu menjadi cinta pertama Rico kini sedang dinanti kepulangannya dari luar negeri- di hati Rico. Rasa benci yang dulu mendarah daging, kini luluh menjadi butir-butir asmara yang tumbuh jauh di lubuk hati Chiara dan Rico.
Kesetiaan Aldy ternyata tak terbalaskan. Enam belas tahun ia menunggu, berharap untuk dapat menggantikan posisi Billy di hati Chiara hanya sebatas penantian tak berujung. Hanya sebuah harapan kosong yang sia-sia. Karena ternyata adik kandung Billylah yang kini menggantikan posisi Billy di hati Chiara. Menjadi separuh bintang yang dulu Billy berikan untuk Chiara. Dunia memang sempit, sangat tidak terduga dua orang laki-laki yang sedarah mampu mencintai seorang gadis yang sama. Karena ternyata Billy adalah anak kandung papa Rico dengan mama Chiara. Kini Ricolah yang menggantikan tugas bintang-bintang untuk menjaga Chiara, memberikan warna baru untuk hidupnya. Tanpa ada alasan yang bisa diungkapkan Rico mengapa ia bisa mencintai Chiara. Itulah kiranya makna cinta, datang dengan tiba-tiba, tanpa terduga dan hinggap pada hati yang tak terduga pula.

Unsur Intrinsik Novel          :
1.    Tema                                  : Cinta datang pada orang yang tidak kita duga  
2.    Latar Belakang                   : Sekolah, taman, dan rumah
3.    Waktu                                 : Pagi hingga malam
4.    Suasana                             : Sedih, Menyenangkan dan Mengharukan
5.    Alur                                     : Novel ini Menggunakan Alur maju mundur yang artinya
  dalam ceritanya terjadi flashback ke masa lalu dan
  kejadianyang akan datang
6.    Gaya Bahasa                     : Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh
  para pembacanya.
7.    Amanat                            : 1) Seberat apapun masalah kita jangan pernah merasa
       sendiri karena banyak yang masih sayang dan
       peduli sama kita
2) memang susah melupakan seseorang yang kita
       sayangi tetapi kita harus bangkit dan membuka diri
       dengan orang sekitar.
8.    Penokohannya        : 1. Vannesa Chiara dipanggil Ciya adalah cewe yang
       periang dan semangat, walaupun terpuruk karena
       dia hidup sebatang kara, dia tetap bisa bangkit. Ciya
       jatuh cinta sama Billy tanpa dia ketahui kalau Billy
       adalah kakak kandungnya
                                  2. Billy adalah kakak kandung Ciya walaupun beda
                                       bapak, tetapi Billy sangat sayang sama ciya bahkan
       jatuh cinta dengannya.
  3. Ryonaldy Hartanu sebagai teman kecil Ciya serta
      cinta pertama Ciya walaupun cintanya bertepuk
      sebelah tangan.
  4. Enrico Leman adalah tokoh sebagai kakak angkat
      dan playboy tetapi akhirnya dia menyukai Ciya.
  5. Henry adalah tokoh sebagai ayah angkatnya
  6. Fatma adalah tokoh sebagai ibu angkatnya
Kelebihan Novel                  :
Dalam novel ini, menggunakan bahasa yang mudah di mengerti oleh pembaca serta ceritanya menarik dan dapat membuat pembaca mengerti perasaan yang dirasakan oleh Chiara. Cover dan judulnya pun bikin para pembaca tertarik untuk membeli dan membaca novel tersebut

Daftar Pusaka
http://rinpm.blogspot.co.id/p/pokok-pembahasan-1.html