Paragraf atau Alinea
ANALISA PEMBAHASAN
Nama Dosen :
Drs. Budi Santoso.MM
Nama Penyusun : Elvita Yenti
NPM :
22213889
KELAS :
3 EB 23
Fakultas Ekonomi
Jurusan Akuntansi
Universitas Gunadarma
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang maha Esa atas berkah
dan rahmatNya sehingga kita dapat menyelesaikan karya ilmiah ini dalam bentuk
maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga karya ilmiah saya ini dapat di
pergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam
pendidikan maupun dalam profesi
keguruan.
Harapan saya semoga karya ilmiah ini membantu menambah
pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca , sehingga saya dapat memperbaiki
bentuk maupun isi dari karya ilmiah ini sehingga kedepan dapat lebih baik .
Karya ilmiah ini saya akui masih banyak kekurangan
karena pengalaman yang saya miliki masih sangat kurang. Oleh karena itu saya
harapkan para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun
untuk kesempurnaan karya ilmiah ini.
Bekasi, 06 januari 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.......................................................................................i
DAFTAR
ISI........................................................................................................ii
BAB
I PENDAHULUAN............................................................................1
1.1 Latar Belakang ...........................................................................1
1.2 Perumusan Masalah....................................................................1
1.3 Pembahasan/Pembatasan
Masalah ............................................1
1.4 Tujuan Penelitian........................................................................2
1.5 Manfaat
Penelitian......................................................................2
BAB
II KAJIAN TEORI ATAU TINJAUAN
KEPUSTAKAAN
2.1 Pembahasan Teori......................................................................3
BAB
III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN..........................................................................7
3.2 PENUTUP.................................................................................7
3.3 DAFTAR PUSTAKA................................................................7
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Paragraf atau alinea adalah suatu bentuk bahasa yang
biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Paragraf atau alinea
biasanya dibuat dibaris baru dengan 5 spasi, sehingga tulisannya terlihat
menjorok ke dalam. Dalam upaya menghimpun beberapa kalimat menjadi paragraph,
yang perlu diperhatikan adalah kesatuan dan kepaduan. Kesatuan berarti seluruh
kalimat dalam paragraf membicarakan satu gagasan(gagasan tunggal).Kepaduan
berarti seluruh kalimat dalam paragraf itu kompak, saling berkaitan mendukung
gagasan tunggal paragraf.
1.2
Perumusan
Masalah
1.
Apakah yang dimaksud dengan paragraf atau alinea ?
2.
Apa saja fungsi paragraf atau alinea?
3.
Apa saja syarat pembentukan paragraf dan alinea?
1.3
Pembahasan
Paragraf atau Alinea adalah satuan bentuk bahasa yang
biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Alinea diperlukan untuk
mengungkapkan ide yang lebih luas dari kalimat dari sudut pandang komposisi,
alinea sebenarnya sudah memasuki kawasan wacana atau karangan sebab karangan
formal yang sederhana boleh saja hanya terdiri atas satu alinea. Jadi, tanpa
kemampuan menyusun alinea tidak mungkin bagi seseorang mewujudkan sebuah
karangan.
1.4
Tujuan
Penelitian
1.
Mengetahui pengertian paragraf atau alinea
2.
Mengetahui struktur paragraf atau alinea
3.
Mampu menjelaskan syarat pembentukan paragraf atau
alinea
4.
Mengetahui jenis-jenis paragraf atau alinea
1.5
Manfaat
Penelitian
1. Untuk menambah wawasan pembaca tentang paragraf dan alinea
2. Untuk mengukur seberapa jauh pembaca memahami tentang paragraf atau
alinea
3. Sebagai tempat mengeluarkan
kretifitas seni dalam ilmu
berbahasa.
BAB 2
Kajian Teori
Pembahasan Teori
Paragraf disebut juga alinea. Kata
tersebut merupakan serapan dari bahasa Inggris paragraph. Kata Inggris
“paragraf” terbentuk dari kata Yunani para yang berarti “sebelum” dan grafein
“menulis atau menggores”. Sedangkan kata alinea dari bahasa Belanda dengan
ejaan yang sama. Alinea berarti “mulai dari baris baru” (Adjad Sakri,1992).
Paragraf atau alinea tidak dapat
dipisah-pisahkan seperti sekarang, tetapi disambung menjadi satu. Menurut
Lamuddin Finoza, paragraf adalah satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan
gabungan beberapa kalimat, sedangkan dalam bahasa Yunani, sebuah paragraf
(paragraphos, “menulis di samping” atau “tertulis di samping”) adalah suatu
jenis tulisan yang memiliki tujuan atau ide. Jadi, paragraf atau alinea adalah
suatu bagian dari bab pada sebuah karangan yang mana cara penulisannya harus
dimulai dengan baris baru dan kalimat yang membentuk paragraf atau alinea harus
memperlihatkan kesatuan pikiran. Selain itu, kalimat-kalimat dalam sebuah
paragraf atau alinea harus saling berkaitan dan hanya membicarakan satu
gagasan. Bila dalam sebuah paragraf atau alinea terdapat lebih dari satu
gagasan, paragraf atau alinea itu tidak baik dan perlu dipecah menjadi lebih
dari satu paragraf atau alinea.
Struktur Alinea
Berdasarkan fungsinya, kalimat yang membangun alinea
pada umumnya dapat diklasifikasikan atas dua macam, yaitu:
1. Kalimat Utama : Biasanya diletakkan pada
awal paragraf, tetapi bisa juga diletakkan pada bagian tengah maupun akhir
paragraf. Kalimat utama adalah kalimat yang inti dari ide atau gagasan dari
sebuah paragraf. Biasanya berisi suatu pernyataan yang nantinya akan dijelaskan
lebih lanjut oleh kalimat lainnya dalam bentuk kalimat penjelas.
2. Kalimat Penjelas : Kalimat penjelas
adalah kalimat yang memberi penjelasan tentang gagasan pokok.Kalimat penjelas
harus senantiasa menjabarkan gagasan yang dinyatakan dalam kalimat topik.
Paragraf/alinea
memiliki fungsi sebagai berikut:
- Mengekspresikan gagasan tertulis dengan bentuk suatu pikiran yang tersusun logis dalam satu kesatuan.
- Menandai peralihan gagasan baru dalam sebuah karangan yang terdiri dari beberapa paragraf.
- Memudahkan pengorganisasian gagasan bagi penulis, sehingga pembaca dapat memahami dengan mudah.
- Memudahkan pengendalian variabel dalam karangan.
Berdasarkan uraian diatas kiranya
menjadi jelas bahwa alinea atau paragraf diperlukan untuk menulis karangan.
Tanpa kemampuan menyusun paragraf atau alinea, tidak mungkin bagi seseorang
mewujudkan sebuah karangan.
Suatu paragraf/alinea dianggap
bermutu dan efektif mengkomunikasikan gagasan yang didukungnya apabila paragraf/alinea
itu lengkap, artinya mngandung pikiran utama dan pikiran-pikiran penjelas. Di
samping itu sama halnya dengan kalimat, paragraf/alinea harus memenuhi
persyaratan tertentu.(Keraf, 1980:67) Adapun syarat-syarat tersebut antara
lain.
- Kesatuan (Unity)
Yang dimaksud dengan kesatuan (unity)
adalah bahwa paragraf/alinea tersebut harus memperlihatkan dengan jelas suatu
maksud atau sebuah tema tertentu. Kesatuan di sini tidak boleh diartikan bahwa
saja hanya memuat satu hal saja. Sebuah paragraf/alinea yang mempunyai kesatuan
bisa saja mengandung beberapa hal atau beberapa perincian, tetapi semua unsur
tadi haruslah bersama-sama digerakkan untuk menunjang maksud tunggal. Maksud
tungggal itulah yang ingin disampaikan penulis dalam paragraf/alinea itu (Keraf,
1980:67).
Jadi kesatuan atau unity di
sini bukan berarti satu atau singkat kalimatnya, melainkan berarti
kalimat-kalimat yang ada dalam paragraf/alinea tersebut menyatu untuk mendukung
pikiran utama sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh.
- Kepaduan (Koherensi)
Syarat kedua yang harus dipenuhi
sebuah paragraf/alinea adalah bahwa paragraf/alinea tersebut harus mengandung
koherensi atau kepaduan yang baik. Kepaduan yang baik itu terjadi apabila
hubungan timbal balik antara kalimat-kalimat yang membina paragraf/alinea
tersebut, baik, wajar, dan mudah dipahami tanpa kesulitan. Pembaca dengan mudah
mengikuti jalan pikiran penulis, tanpa merasa bahwa ada sesuatu yang menghambat
atau semacam jurang yang memisahkan sebuah kalimat dari kalimat lainnya, tidak
terasa loncatan-loncatan pikiran yang membingungkan (Keraf, 1980:75).
Kepaduan bergantung dari penyusunan
detil-detil dan gagasan-gagasan sekian macam sehingga pembaca dapat melihat
dengan mudah hubungan antar bgaian-bagian tersebut. Jika sebuah paragraf/alinea
tidak memliki kepaduan, maka pembaca seolah-olah hanya menghadapi suatu
kelompok kalimat yang masing-masing berdiri lepas dari yang lain, masing-masing
dengan gagasannya sendiri, bukan suatu uraian yang integral.
Pendeknya sebuah paragraf/alinea
yang tidak memiliki kepaduan yang baik, akan menghadapkan pembaca dengn
loncatan-loncatan pikiran yang membingungkan, menghadapkan pembaca dengan
urutan waktu dan fakta yang tidak teratur, atau pengembangan gagasan utamanya
dengan perincian yang tidak logis dan tidak lagi berorientasi kepada pokok
uatama tadi.
Dengan demikian kalimat-kalimat
dalam paragraf bukanlah kalimat-kalimat yang dapat berdiri sendiri.
Kalimat-kalimat tersebut harus mempunyai hubungan timbal balik, artinya kalimat
pertama berhubungan dengan kalimat kedua, kalimat kedua berhubungan dengan
kalimat ketiga, demikian seterusnya. Koherensi suatu paragraf dapat ditunjukkan
oleh:
1. Pengulangan kata/kelompok kata kunci
atau disebut repetisi.
2. Penggantian kata/kelompok kata atau
subtitusi.
3. Pengulangan kata/kelompok kata atau
transisi.
4. Hubungan implisit atau
penghilangan kata/kelompok kata tertentu atau ellipsis
Berikut ini dikemukakan kata-kata
atau frase transisi, seperti dikemukakan oleh Keraf (1980:80-81):
1. Hubungan yang menyatakan tambah
terhadap sesuatu yang telah disebut, misalnya: lebih lagi, tambahan, lagi pula,
selanjutnya, di damping itu, akhirnya, dan sebagainya.
2. Hubungan yang menyatakan
pertentangan, misalnya: tetapi, namun, bagaimanapun juga, sebaliknya, walaupun,
demikian, biarpun, meskipun.
3. Hubungan yang menyatakan
perbandingan, misalnya: sama halnya, seperti, dalam hal yang sama, dalam hal
yang demikian, sebagaimana.
4. Hubungan yang menyatakan akibat,
misalnya; sebab itu, oleh sebab itu, oleh karena itu, jadi, maka, akibatnya,
karena itu.
5. Hubungan yang menyatakan tujuan,
misalnya: untuk maksud itu, untuk maksud tertentu, untuk maksud tersebut,
supaya.
6. Hubungan yang menyatakan singkatan,
misalnya contoh intensifikasi: singkatnya, ringkasnya, secara singkat,
pendeknya, pada umumnya, dengan kata lain, yakni, yaitu, sesungguhnya.
7. Hubungan yang menyatkn waktu,
misalnya: sementara itu, segera, beberapa saat kemudian, sesudah,
kemudian.
8. Hubungan yang menyatakan tempat,
misalnya: di sini, di situ, dekat, di seberang, berdekatan dengan, berdampingan
dengan.
- Kejelasan
Suatu paragraf/alinea dikatakan
lengkap, apabila kalimat topik ditunjang oleh sejumlah kalimat penjelas.
Tentang kalimat-kalimat penjelas ini sudah dibicarakan di bagian awal tulisan
ini, yaitu pada unsur-unsur paragraf. Kalimat-kalimt penjelas penunjang utama
atau penunjang kedua harus benar-benar menjelaskan pikiran utama. Cara
mengembangkan pikiran utama menjadi paragraf serta hubungan antar kalimat utama
dengan kalimat penjelas (detil-detil penunjang) dapat dilihat dari urutan
rinciannya. Rincian itu dapat diurut secara urutan waktu (kronologis), urutan
logis, terdiri atas sebab-akibat, akibat-sebab, umum-khusus, khusus-umum, urutan
ruang (spasial), urutan proses, contoh-contoh dan dengan detail fakta.
- Pengait Paragraf/Alinea
Agar paragraf/alinea menjadi padu
digunakan pengait paragraf, yaitu berupa:
1. Ungkapan penghubung transisi.
2. Kata ganti.
3. Kata kunci (pengulangan kata yang terpenting).
Dalam sebuah karangan biasanya
terdapat tiga macam paragraf jika dilihat dari segi jenisnya.
1. Paragraf/Alinea Pembuka.
Paragraf ini
merupakan pembuka atau pengantar untuk sampai pada segala pembicaraan yang akan
menyusul kemudian. Paragraf pembuka harus dapat menarik minat dan perhatian
pembaca, serta sanggup menghubungkan pikiran pembaca kepada masalah yang akan
disajikan selanjutnya. Salah satu cara untuk menerik perhatian ini ialah dengna
mengutip pertanyaan yang memberikan rangsangan dari para orang terkemuka atau
orang yang terkenal. Sebagai awal sebuah karangan, paragraf pembuka harus mampu
menjalankan fungsi:
·
Menghantar
pokok pembicaraan.
·
Menarik
minat dan perhatian pembaca.
·
Menyiapkan
atau menata pikiran pembaca untuk mengetahui isi seluruh karangan
2.
Paragraf/Alinea Pengembangan
Paragraf pengembangan ialah paragraf yang terletak antara paragraf pembuka
dan paragraf yang terakhir sekali di dalam bab atau anak bab. Paragraf ini
mengembangkan pokok pembicaraan yang dirancang. Paragraf pengembangna
mengemukakan inti persoalan yang akan dikemukakan. Satu paragraf dan paragraf
lain harus memperlihatkan hubungan dengan cara ekspositoris, dengan cara
deskriptif, dengan cara naratif, atau dengan cara argumentative yang akan
dibicarakan pada halaman-halaman selanjutnya. Secara lebih rinci dapat
dirumuskan bahwa fungsi paragraf pengembang di dalam karangan adalah:
·
Mengemukakan inti persoalan.
·
Mempersiapkan dasar atau landasan bagi kesimpulan.
·
Meringkas alinea sebelumnya.
·
Menjelaskan hal yang akan diuraikan pada paragraf
berikutnya.
3.
Paragraf/Alinea Penutup
Paragraf penutup adalah paragraf yang terdapat pada akhir karangan atau
pada akhir suatu kesatuan yang lebih kecil di dalam karangan itu. Paragraf
penutup berupa simpulan semua pembicaraan yang telah dipaparkan pada
bagian-bagian sebelumnya. Karena paragraf ini dimaksudkan untuk mengakhiri
karangan atau bagian karangan, penyajiannya harus memperhatikan hal berikut
ini:
·
Sebagai bagian penutup, paragraf ini tidak boleh
terlalu panjang.
·
Isi paragraf harus benar-benar merupakan penutup atau
kesimpulan akhir sebagai cerminan inti seluruh uraian.
·
Sebagai bagian paling akhir yang dibaca, hendaknya
paragraf ini dapat menimbulkan kesan yang mendalam bagi pembacanya.
Sebuah paragraf dapat ditandai dengan memulai kalimat
pertama agak menjorok ke dalam, kira-kira lima ketukan mesin ketik atau
kira-kira dua sentimeter. Agar para pembaca mudah dapat melihat permulaan tiap
paragraf sebab awal paragraf ditandai oleh kalimat permulaannya yang tidak
ditulis dengan sejajar dengan garis margin atau garis pias kiri. Penulis dapat
pula menambahkan tanda sebuah paragraf itu dengan memberikan jarak agak
renggang dari paragraf sebelumnya.
Rangka
atau Struktur Paragraf
Sebelum membahas mengenai struktur paragraf, yang
perlu kita ketahui adalah ciri-ciri paragraf, yaitu:
- Paragraf menggunakan pikiran utama yang dinyatakan dalam kalimat topik.
- Setiap paragraf menggunakan satu kalimat topik, selebihnya merupakan kalimat penjelas dalam menguraikan kalimat topik.
- Paragraf mengunakan pikiran penjelas yang dinyatakan dalam kalimat penjelas paragraf hanya berisi satu kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas.
Berdasarkan ciri-ciri tersebut, maka
seluruh kalimat yang membangun paragraf pada umumnya dapat diklasifikasikan
atas dua jenis, yaitu kalimat topik atau kalimat pokok dan kalimat penjelas
atau kalimat pendukung. Kalimat topik adalah kalimat yang berisi ide pokok atau
ide utama paragraf. Kalimat ini merupakan kalimat terpenting yang harus ada
dalam setiap paragraf. Jika kalimat topik tidak ada dalam satu paragraf,
berarti ide paragraf itu juga tidak ada. Adapun kalimat penjelas atau pendukung
sesuai dengan namanya berfungsi mendukung atau menjelaskan ide utama yang
terdapat di dalam kalimat topik. Ciri kalimat topik dan kalimat penjelas adalah
sebagai berikut.
- Ciri kalimat topik:
a. Mengandung
permasalahn yang potensial untukdirinci dsn diuraikan lebih lanjut.
b. Merupakan
kalimat lengkap yang dapat berdiri sendiri.
c.
Mempunyai
arti yang cukup jelas tanpa harus dihubungkan dengan kalimat lain dalam satu
paragraf.
d.
Dapat
dibentuk tanpa bantuan kata sambung atau penghubung/transisi.
- Ciri kalimat penjelas:
1. Sering merupakan kalimat yang tidak
dapat berdiri sendiri (dari segi arti).
2. Arti kalimat ini kadang-kadang baru
jelas setelah dihubungkan dengan kalimat lain dalam satu paragraf.
3. Pembentukannya sering memerlukan
bantuan kata sambung atau frasa penghubung/transisi.
4. Isinya berupa rincian, keterangan,
contoh dan data tambahan lain yang bersifat memperjelas (mendukung) kalimat
topik.
- Pada Awal Paragraf ( Deduktif)
Kalimat pokok ditempatkan pada
bagian awal paragraf sehingga paragraf bersifat deduktif, yaitu cara penguraian
yang menjadikan pokok permasalahan lebih dahulu, lalu menyusul uraian yang
terinci mengenai permasalahan atau gagasan paragraf (urutan umum-khusus).
- Akhir Paragraf ( Induktif)
Kalimat pokok yang ditempatkan pada
akhir paragraf akan membentuk paragraf induktif, yaitu cara penguraian yang
menyajikan penjelasan terlebih dahulu, barulah diakhiri dengan pokok
pembicaraan (urutan khusus-umum). Penyajian paragraf dengan cara ini
lebih sulit jika dibandingakan dengan paragraf deduktif, tetapi paragrafnya
akan terasa lebih argumentatif.
- Pada awal dan akhir paragraf/alinea
Kalimat pokok ditempatkan pada
bagian awal dan akhir paragraf/ alinea sehingga terbentuk paragraf/alinea
campuran. Kalimat pada akhir paragraf/alinea akan lebih bersifat pengulangan
atau penegasan kembali gagasan utama paragraf/alinea yang terdapat pada awal
paragraf/alinea.
- Pada seluruh paragraf/alinea
Seluruh kalimat yang membangun
paragraf/alinea sama pentingnya sehingga tidak satu pun kalimat khusus menjadi
kalimat topik. Kondisi demikian bisa terjadi akibat sulitnya menentukan kalimat
topik karena kalimat yang satu dengan yang lain sama-sama penting.
Paragraf/alinea semacam ini sering dijumpai dalam uraian-uraian yang bersifat
deskriptif dan naratif.
BAB 3
Penutup
3.1
Kesimpulan
Paragraf atau alinea merupakan sekumpulan kalimat
yang saling berkaitan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain.
Paragraf juga disebut sebagai karangan singkat, karena dalam bentuk inilah
penulis menuangkan ide atau pikirannya sehingga membentuk suatu topik atau tema
pembicaraan. Paragraf adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan atau
karya ilmiah yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru.
Paragraf dikenal juga dengan nama lain alinea. Paragraf dibuat dengan membuat
kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam (geser ke sebelah kanan)
beberapa ketukan atau spasi. Demikian pula dengan paragraf berikutnya mengikuti
penyajian seperti paragraf pertama.
Dalam 1 paragraf terdapat beberapa bentuk
kalimat, kalimat-kalimat itu ialah kalimat pengenal, kalimat utama (kalimat
topik), kalimat penjelas, dan kalimat penutup. Kalimat-kalimat ini terangkai
menjadi satu kesatuan yang dapat membentuk suatu gagasan. Panjang pendeknya
suatu paragraf dapat menjadi penentu seberapa banyak ide pokok paragraf yang
dapat diungkapkan.
Paragraf atau alinea adalah suatu bentuk bahasa
yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Paragraf atau
alinea biasanya dibuat dibaris baru dengan 5 spasi, sehingga tulisannya
terlihat menjorok ke dalam. Dalam upaya menghimpun beberapa kalimat menjadi
paragraph, yang perlu diperhatikan adalah kesatuan dan kepaduan. Kesatuan
berarti seluruh kalimat dalam paragraf membicarakan satu gagasan(gagasan
tunggal).Kepaduan berarti seluruh kalimat dalam paragraf itu kompak, saling
berkaitan mendukung gagasan tunggal paragraf.
Dalam kenyataannya kadang-kadang kita menemukan
alinea yang hanya terdiri atas satu kalimat, dan hal itu memang dimungkinkan.
Namun, dalam pembahasan ini wujud alinea semacam itu dianggap sebagai
pengecualian karena disamping bentuknya yang kurang ideal jika ditinjau dari
segi komposisi, alinea semacam itu jarang dipakai dalam tulisan ilmiah.
Paragraf diperlukan untuk mengungkapkan ide yang lebih luas dari sudut pandang
komposisi, pembicaraan tentang paragraf sebenarnya ssudah memasuki kawasan
wacana atau karangan sebab formal yang sederhana boleh saja hanya terdiri dari
satu paragraf. Jadi, tanpa kemampuan menyusun paragraf, tidak mungkin bagi
seseorang mewujudkan sebuah karangan.
Unsur-unsurnya :1.Topik atau tema atau gagasan utama atau gagasan pokok atau pokok pikiran
2.Kalimat utama atau pikiran utama
Berdasarkan penempatan inti gagasan atau ide pokoknya alinea dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :
Deduktif : kalimat utama diletakan di awal alinea
Induktif : kalimat utama diletakan di akhir anilea
Variatif : kalimat utama diletakan di awal dan diulang pada akhir alinea.
Deskriptif/naratif : kalimat utama tersebar di dalam seluruh alinea
Biasanya diletakkan pada awal paragraf, tetapi bisa juga diletakkan pada bagian tengah maupun akhir paragraf. Kalimat utama adalah kalimat yang inti dari ide atau gagasan dari sebuah paragraf. Biasanya berisi suatu pernyataan yang nantinya akan dijelaskan lebih lanjut oleh kalimat lainnya dalam bentuk kalimat penjelas. Kalimat utama yang diletakkan di awal paragraf biasa kita sebut dengan paragraf deduktif, sedangkan kalimat pokok yang diletakkan di akhir paragraf biasa kita sebut dengan paragraf induktif. Adapun ciri-ciri dalam membuat kalimat utama, yakni kalimat yang dibuat harus mengandung permasalahan yang berpotensi untuk diperinci atau diuraikan lebih lanjut. Ciri-ciri lainnya yaitu kalimat utama dapat dibuat lengkap dan berdiri sendiri tanpa memerlukan kata penghubung, baik kata penghubung antarkalimat maupun kata penghubung intrakalimat.
3.2 Penutup
Sekian Karya
Tulis kami mengenai penalaran Deduktif, semoga karya Tulis kami ini menambah
wawasan para pembaca, apabila karya Tulis kami mengalami kekurangan atau
kesalahan kata maupun kalimat kami harapkan sebuah kritikan untuk
menyempurnakan karya Tulis kami. Terimakasih Atas perhatiannya.
3.3 Daftar
Pustaka :